Boa – Waiting
Uri orma maningayo cham oren shigani hulloneyo
We jaku ne mami aphun gonji
We guri apha hanayo hogshirado himdun il issonayo
We amumar haji anhanayo
** Jigum inde gude aphinde
Marheya hanunde naui maumur
Oren shigan guderur hyanghan
Girodon gidarimur
Babogathjyo hangsang gurejyo
Gure ya hejyo guder wiheso
Sarangheyo yojonhi gamsaheyo
We nar jabji anhanayo we amugodo mudji anhanayo
Gude obnun nega goenchanhur god gathnayo
Repeat **
Na argo issoyo
Nega gudege
Majimag hangaji hejur su inun goshi
Ibyorpuniranun god
Ijesoya kedarun naui
Mojaran sarangur yongsohe jwoyo
Sarangheyo yojonhi gamsaheyo
Sarangheyo imari hago shiphojyo
"Only Love"
2 a.m. and the rain is falling
Here we are at the crossroads once again
You're telling me you're so confused
You can't make up your mind
Is this meant to be
You're asking me
But only love can say - try again or walk away
But I believe for you and me
The sun will shine one day
So I'll just play my part
And pray you'll have a change of heart
But I can't make you see it through
That's something only love can do
In your arms as the dawn is breaking
Face to face and a thousand miles apart
I've tried my best to make you see
There's hope beyond the pain
If we give enough, if we learn to trust
[Chorus]
I know if I could find the words
To touch you deep inside
You'd give our dream just one more chance
Don't let this be our good-bye
WELCOME TO MY TEARS,,,,,,,,,,,,,
Kasihan sekali kamu duhai hatiku..
dunia ini menipumu mentah-mentah..
mencengkerammu dalam aliran darah..
bertahanlah..
dunia ini menipumu mentah-mentah..
mencengkerammu dalam aliran darah..
bertahanlah..
AIR MATA DARAH
Tangis apalagi yang akan kita pekikakan
Setelah air mata darah tumpah ditanah merdeka
Lalu merasuk ke kantong-kantong para cukong
Sementara ……………
Kita semakin terseok di sudut jalanan
Di bawah keangkuhan gedung-gedung menjulang yang dulu pusara bunda
Tangis apalagi yang akan kita pekikan ketika sawah ladang dan pohon-pohon tumbang
Menyimpan kebohongan ditelevisi dan koran
Sebagai serundu Jepang memperkosa perawan desa
Dipematang milik siapa saja
Tangis apalagi yang akan kita pekikakan
Kala asap kematian memancar dari cerobong-cerobong pabrik
Napas kita pun kian sesak dan kuping pun jadi peka
Hingga mata kita menjadi kabur di mata kebenaran
Yang sah diperjual belikan
Sementara………………
Kita terus berdiri makin ke penggir
Ketepi kali-kali yang tak berikan lagi
No comments:
Post a Comment