WELCOME TO MY TEARS,,,,,,,,,,,,,

Kasihan sekali kamu duhai hatiku..
dunia ini menipumu mentah-mentah..
mencengkerammu dalam aliran darah..
bertahanlah..

AIR MATA DARAH

Tangis apalagi yang akan kita pekikakan
Setelah air mata darah tumpah ditanah merdeka
Lalu merasuk ke kantong-kantong para cukong
Sementara ……………
Kita semakin terseok di sudut jalanan
Di bawah keangkuhan gedung-gedung menjulang yang dulu pusara bunda

Tangis apalagi yang akan kita pekikan ketika sawah ladang dan pohon-pohon tumbang
Menyimpan kebohongan ditelevisi dan koran
Sebagai serundu Jepang memperkosa perawan desa
Dipematang milik siapa saja

Tangis apalagi yang akan kita pekikakan
Kala asap kematian memancar dari cerobong-cerobong pabrik
Napas kita pun kian sesak dan kuping pun jadi peka
Hingga mata kita menjadi kabur di mata kebenaran
Yang sah diperjual belikan
Sementara………………
Kita terus berdiri makin ke penggir
Ketepi kali-kali yang tak berikan lagi


Wednesday, November 25, 2009

Kembalikan Senyumku

ibu..., kenapa kau begitu tega membuangku di tepi nasib. Apakah matahari memang sengaja menghamburkan partikel2 nya untuk menghidupi tata surya..?, ataukah matahari sudah kehabisan energi dan akan menjadi supernova..?. Melangkah di trotoar2 dekil, di samping sky craper tempat manusia2 berdasi dan bermobil Mercy. Aku menangis...., akhirnya aku menangis setelah sekian lama aku selalu sesumbar bahwa danau airmataku sudah kering disedot oleh rahwana2 kehidupan. Aku sadar bahwa tangis terakhirku adalah tangisku pada ibu, ketika aku tahu bahwa dia akan pergi menemui-Nya, tetapi dia dengan lantang mengundang malaikat maut, bercanda dengannya, untuk kemudian memeluknya. Sesudah itu aku berjanji untuk tidak menangis, tapi kejadian kemarin waktu penggerebekan itu benar2 menghancurkan benteng pertahananku.

Tak berapa lama setelah ibu pergi, seorang datang mengusirku. Tidak berhak lagi aku tinggal di kamar kontrakan 3 x 5 meter itu, karena ada orang lain yang bisa membayar dengan teratur dan punya pekerjaan tetap.
======Senyumku telah berkurang satu.
Akupun menggelandang, dengan sedikit uang yang tersisa dan baju sekedarnya, malam itu aku tidur di emperan toko. Dingin menusuk tulang, karena sang hujan ternyata datang menjemput kekasihnya, bumi yang sudah mulai retak. Aku harus tidur dengan pakaian basah, tidur....?, aku tidak bisa bilang itu tidur, hanya merebahkan diri, karena pikiranku mengembara menembus batas2 langit.

Pagi datang dengan cepatnya, aku dikagetkan oleh laki2 dengan suara berat, menendang punggungku menyuruhku untuk bangun. Badannya penuh tattoo, bunga mawar di bahu sebelah kanan, Che Guevara di bahu sebelah kiri (kurang ajar betul preman ini, menggunakan wajah pahlawan itu untuk menghiasi tubuh setannya), ada tattoo wanita telanjang, dan tak tahu lagi, semua saling bertumpuk membentuk pemandangan mengerikan.
"Heh, bocah, baru ya..?"
aku diam saja, ketakutan. Aku pun tak tahu maksud pertanyaannya.
"Bangsat, kenapa kau diam saja, bisu...?"
"Tidak..Om"
"Kau baru jadi gelandangan di sini...?"
Aku mengangguk.
"Tanah Abang adalah wilayah kekuasaanku, kau jangan macam2 di sini, sini tasmu..!!!!"
Preman itu merampas tasku, aku tak bisa melawannya, dia terlalu kuat. Digeledahnya semua isi tasku, dan uang beberapa puluh ribu pun diambilnya. Setelah selesai melakukan razia tasku, dilemparnya tas itu ke mukaku.
==========Senyum berikutnya terambil seorang bajingan
Kulangkahkan kakiku kemana dia mengajak, sampai terasa perutku meronta minta diisi, jam 1 siang kulihat. Tuntutan lambungku ternyata tak bisa ditawar2 lagi, kulihat ada masjid di ujung jalan. Segera aku menuju ke masjid itu, sholat akan mengurangi letih dan lapar pikirku. Segera kuminum air jernih itu sepuas2nya, dan aku berwudhu. Sungguh sejuk kurasakan, kuresapi benar2 doaku..
"Tuhan segala yg hidup, jadikanlah aku termasuk orang2 yang bertaubat dan orang2 yang bersuci"
Terbentang sebentar kenangan2 masa lalu, aku begitu bahagia bersama ibu, walau ayah telah tiada, tapi ibu telah bisa bertindak sebagai ibu dan ayah bagiku. Bertarung melawan ganasnya kehidupan dengan lembut dan elegan.
Rumah Tuhan yang mewah ini sejuk, karena di pojok2nya berputar baling2 kipas angin. Kuangkat kedua tanganku
"Allaahu Akbar" aku pun asyik mahsyuk menelusuri kebesaran-Nya. Jiwaku bergetar, ketika aku berjanji "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untukmu wahai Tuhan seru sekalian alam"
Janji dahsyat yang telah diucapkan miliaran kali tiap hari oleh manusia, tetapi sedikit sekali yang bisa mewujudkannya. Akupun tidak, Oh Tuhan dosa apa yang harus kami tanggung, berjanji padamu tiap hari, tetapi selalu mengingkari. Ingkar janji dengan Sang Khalik.., aku tak tahu lagi apakah itu pantas untuk seorang makhluk.
Tak terasa lama sekali aku berdiri menghadap-Nya, tiba2 dari belakang tangan besar menarikku, akupun terseret2 tak karuan....
"Gelandangan, kalau mau berteduh jangan di masjid, ini untuk sholat, lihat pakaianmu yang dekil itu, tidak pantas itu untuk menghadap Tuhan. Tuhan itu Rabul Jalaal, Maha Indah, hanya menerima yang indah"
"Saya sedang sholat Pak"
"Sudah, kamu jangan alasan, mana ada anak jalanan sholat, kamu pergi sana...!!!!"
Aku didorong pergi oleh orang berjubah putih dan berpeci itu. Pikiranku memberontak, seberapa picik pikiran manusia mengartikan keindahan Tuhan. Keindahan versi manusia pun dipaksakan menjadi keindahan Tuhan. Aku baru merasakan kebenaran ucapan guru ngajiku, bahwa masjid yang abadi itu ada dalam hatimu. Sujud yang terbaik itu harus terpendam dalam dadamu. Rumah Tuhan bukanlah tembok, tapi jiwa.
====senyumku dirampas lagi oleh setan berbaju kebaikan
Hari pun cepat menjemput senja, tuk kemudian menyerahkan estafet kepada malam. Hari pertamaku sebagai seorang gelandangan.

Aku sudah mulai menemukan irama hidup, aku bekerja sebagai tukang semir sepatu, kalau sempat aku pun menawarkan jasa membersihkan mobil kepada orang2 yang aku semir sepatunya. Aku masih mencoba tabah menghadapi hidup, mencoba tersenyum walaupun getir, mencoba bahagia walaupun sengsara.
Hingga malam petaka itu datang, kami digerebek. Semua dimasukkan ke truk dan kami dibawa ke suatu tempat yang kami tidak ketahui, hanya yang pasti di luar kota. Operasi gabungan antara Tramtib dan Tentara itu mendadak sekali, sehingga kami pun tak sempat menyelamatkan sedikit barang2 yang kami simpan selama ini.
Barang2 kami semua diangkut, yang berharga diambili, yang tidak dibuang entah kemana. Kami diinterogasi seperti residivis yang berlumuran darah baru membunuh korbannya, dipukul, ditendang, dan yang lebih menyakitkan beberapa di antara kami disodomi dan beberapa yang cewek diperkosa. Dan satu diantaranya adalah aku, Oh Tuhan kenapa perbuatan terkutuk itu terjadi padaku. Apakah Sodom dan Gomora tidak cukup Kau hancurkan..?
Duniaku hancur, tinggal bayang2 gelap, setan demi setan, rahwana demi rahwana, Dewa Perang Ares telah turun lagi ke bumi, dan merenggut senyum terakhirku.

SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU


Aku sedang berjalan kearah luar gang rumahku menuju sekolah. Tetapi sebelum aku berangkat sekolah, aku harus menunggu Dina yang sedang menuju kearah depan gangku. Kulihat kedepan sana tetapi tidak seorangpun tampak, ketika aku sedang menunggu Dina, aku melihat dua orang teman sekelasku berjalan kearahku. Ya… itu Lila dan Uswah. “ Hey Nad… kamu kaq belum berangkat sekolah seh?!! “ Tanya Lila kepadaku.“ owh iya neh aku sedang menunggu Dina. “ Jawabku.“ ohh kamu sedang menunggu Dina, tapi Nad 10 menit lagi sekolah masuk tau!! Kamu ga takut telat??? “ Tanya Uswah kepadaku.“ ya udah kalau geto kita berangkat sekolah bareng ya?!! “ pintaku kepada Lila dan Uswah. Merekapun mengiyakan ajakanku dan segera melangkahkan kaki untuk menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan kami kesekolah. **** “ NADIAAA…!!! “ teriak Dina sambil melangkahkan kaki dengan cepat kearahku.“ Eh… Dina?!! ““ Eh… Dina, Eh… Dina lagi, kamu koq ninggalin aku seh Nad??? Tadi tuh aku kerumahmu tapi kata kakakmu, kamu baru aja berangkat!!! ““ Mmm…Sorry deh, abis kamu lama seh “.“ iiihh… kan udah aku bilang tunggu sampai aku datang?!! ““ iya…iya…sorry, udah donk jangan marah marah terus, kaya nenek – nenek aja!!! “.“ enak aja! Kamu tuh yang kaya nenek – nenek!!! “ jawab Dina dengan tampang kesalnya. Melihat Dina mau marah-marah lagi, akupun berlari meninggalkan Dina menuju kelas dan duduk ditempatku, Dinapun berteriak – teriak sambil berlari-lari kecil kearahku dan melanjutkan ocehan – ocehan yang tadi tertunda. Aku dan Dina bersahabat sejak duduk disekolah menengah pertama kelas 1 hingga duduk disekolah menengah kejuruan kelas 2. Orang tuaku sangat akrab dengan Dina, begitupun sebaliknya. Sudah seperti saudaraku sendiri. ****“ Lila… Uswah… “ panggilku. “ ya Nad, ada apa?!! “ jawab Lila.“ nanti pulang bareng ya!!! “. “ oh itu, liat nanti aja ya!!! “ jawab Lila.“ oce dehh, Mmm… tapi besok berangkat bareng lagi ya??? Aku tunggu kalian berdua di tempat tadi, oce?!! “. “ oceee…!!! “ jawab mereka berdua dengan kompak. Semenjak kami sering pulang dan berangkat sekolah bersama, kami menjadi semakin akrab. Tidak hanya pulang dan berangkat sekolah saja kami bersama tetapi kemanapun dan acarapun kami selalu terlihat bersama. Dan sejak saat itulah satu persahabatan dalam hidupku tersulam kembali.****“ koq Lila, Dina dan Uswah agak beda ya?? Apa mereka sedang ngerjain aku ya?!! “ aku duduk termenung dikelas yang masih kosong. “ Mmm… mungkin hanya perasaan aku saja kale ya?!! “ ujarku dalam hati. Aku merasa beberapa hari ini Lila, Dina dan Uswah agak cuek kepadaku. Mungkin karena sebentar lagi hari ulang tahunku. Padahal aku merasa karena mereka cuek kepadaku. “ Eh Nad… bengong aja kamu!!! “ ujar Uswah membuyarkan lamunanku. “ ah nggak koq!!! ““ oya Nad, besokhari minggu teman – teman sekelas ngajakinkita lari pagi bareng. Kamu ikut kan? “ Tanya Dina. “ gat au deh, lihat besok aja ya?!! MALEEZZ tau, masa liburan gene masih keluar juga…! Acara kelas lagee!!! ““ Nad pokoknya kamu harus ikut, kalau ga ikut dapet hukuman loh. “ Ujar Lila menakutiku. “ Memangnya anak SD… masih ada hukuman, udah pokoknya lihat bezok aja deh, ya.. ya..!!! “.“ YOII !!! “ jawab Uswah dengan singkat. Aku sudah menduga pazti mereka merencanakan sesuatu untukku esok hari. Aku merasa sangat penasaran dan agak sedikit takut. “ Aduh aku dating nggak ya besok??? Pasti mereka belez dendam deh ke aku karena kemarin yang nerjain mereka adalah aku!!! “ ucapku dalam hati.“ udah deh lihat besok aja…! Kalau aku dijemput ya aku pergi, tapi kalau aku ga dijemput ya aku nggak pergi!!! “ kataku dalam hati lagi dengan memejamkan mata untuk tidur walaupun dengan sedikit perasaan gelisah. Tik…Tok…Tik…Tok…, tepat jam 12 malam tiba – tiba aku terbangun karena mendengar suara telepon berdering. Akupun dengan segera mengangkatnya. “ Hallo… “ sapaku.Tak ada jawaban dari seberang.“ Hallooo… “ aku menyapa sekali lagi.Masih tidak ada jawaban jawaban juga. “ HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY NADIA…!!! Terdengar nyanyian dari seseorang di seberang sana.“thanks ya!!! “ aku terharu.“ Met ultah Nadia! Ketujuh belas ya? Semoga kamu tambah dewasa, tambah cantik dan tambah gokil!!! “ ujar Isti.“ Paztee..!! ““ Nad sorry neh aku ga bias telepon kamu lama – lama soalnya aku ngantuk! Kamu met tidur ya Nad, sorry ganggu, bye Nadia…!!! ““ Bye!!! “ Isti adalah kakak kelas disekolahku. Dia sangat baik kepadaku tetapi sejak ia lulus aku jarang sekali bertemu dengan sia mungkin bias dibilang tidak pernah lagi. Ya… mungkin dia sibuk dengan kegiatan barunya.****“ iiihh.. Alarm berisik banged seh!!! Kan masih ngantuk?!! “ gerutuku. Akupun segera bangun dan beranjak merapikan diri. Walaupun berat dan malas sekali rasanya tetapi pagi ini aku harus pergi karena sudah mempunyai janji untuk lari pagi bersama teman sekelasku. Walaupun aku tahu kalu hari ini mereka sudah mempunyai rencana untuk mengerjaiku. “ Assalamu’alaikum…!!! ““ Wa’alaikumsalam… “ jawabku sambil membukakan pintu.“ Hey Nad?!! ““ Hey! ““ Gimana udah siap belum? Teman – teman udah nunggu kamu tuh!! ““ Iya.. Iya.. sabar donk!!! “ kataku sambil melangkahkan kakiku kearah timur. Ternyata teman – teman sekelasku tidak dating semua pagi ini dan ternyata dugaanku tentang semua itu salah, merekatidak mengerjaiku. Aku merasa sangat senang. “ Upss.. tapi tunggu sebentar, sebuah telur mendarat dengan tepat diatas kepalaku!!! “. Akupun berteriak dan mengejar-ngejar Uswah dan teman yang lainnya. Merekapun semua berlari menjauhiku. **** " Assalamua’laikum…!!! Uswah… Uswah… “ Ucapkku setelah sampai didepan pintu rumahnya.“ Wa’alaikumsalam… ohh… Nadia, ayo masuk dulu Nad!!! “. Uswah mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. “ Tunggu sebentar ya nad, aku mau siap – siap dulu, nanti bila Lila dan Dina datang kita bias langsung berangkat kesekolah..! ““ iya.., tapi jangan pake lama, nanti aku jamuran lagi?!! “ jawabku sambil tersenyum kecil. Tidak lama setelah Uswah berseragam sekolah rapi, Lila dan Dinapun datang. Aku dan Uswah segera keluar rumah dan memakai sepatu dengan cepat. “ yoo.. kita berangkat “ ucap Uswah setelah kami berpamitan dengan orang tuanya. Lalu kami bertiga menganggukan kepala dengan serempak sambil tertawa. Diperjalanan menuju sekolah, seperti biasa kami berempat bercerita dan bercanda tanpa merasakan teriknya matahari yang menyengat tubuh, karena kami terlalu asyik dengan candaan konyol Uswah yang membuat perut kami terasa sakit. Alangkah senangnya kami setiap hari seperti ini, selalu bersama – sama. Ketika angkutan umum yang kami tumpangi sudah mengantarkan sampai tujuan dan pergi berlalu. Tiba – tiba Lila berbicara dengan kerasnya dan membuat aku, Dina dan Uswah kaget. “ HEYY!!! Udah jam12.30 loh!!! “ Lila berusaha memberi tahu bahwa kami sudah terlambat masuk sekolah. Kami berlari – lari saling mendahului, sambil tertawa dan berbicara, “ tungguin donk, jangan cepet – cepet?!! “. Huh… lelahnya kami setelah berlari-larian. Kami berjalan perlahan menuju kelas dan sampailah didepan pintu kelas, lalu mengetuk pintu dan membuka dengan mengucapkan salam, lalu mencium tangan guru yang memang sudah duduk lebih awal sebelum kami datang. Kami mengawali hari dengan terlambat masuk sekolah yang memang bias di bilang ritinitas kami setiap harinya. Dan sekarang waktunya kami memandangi papan tulis yang penuh dengan huruf dan berbaris membuat shaf dan banjar. 1 jam, 2 jam, 3 jam, begitu bosannya kami belajar, hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi. “ Akhirnya istirahat juga…!!! “. Kataku dalam hati.“ Nad, La, Din keluar yoo, Laperr nehh!!! “ ajak Uswah. Kamipun berdiri lalu berjalan keluar kelas menuju tempat yang bisa menghilangkan rasa lapar dan haus. “ Makan… Makan…!!! Kita mau makan apa neh??? “ Tanya Uswah dengan bawelnya dan ketidak sabaran dia menunggu jawaban kami.“ Terserah deh “ ucap Dina dengan singkatnya. Tanpa menunggu jawaban dari aku dan Lila, Uswah pun mengambil bakwan dan memasukkannya kedalam mulut, lalu dilanjutkan Lila, aku dan Dina. Setelah selesai makan, kamipun beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar. Waktu istirahatpun berakhir. Kami berempat memasuki kelas yang memang sudah ramai dengan teman – teman sekelas kami. Melanjutkan pelajaran yang tertunda. Iseng – iseng saat guru menjelaskan, aku menjaili Uswah dengan mengikat ujung jilbabnya. Teman – teman yang berada dibelakangku tertawa – tawa dan berkata “ Dasar Jail?!! “. Aku hanya senyum – senyum kecil saja karena takut Uswah menyadarinya. Bel pulang berbunyi, waktu kami pulang. Menaiki angkutan umum bersama, lalu berpisah ditengah perjalanan. “ aku duluan ya…!, Bye…bye….!!! “ ucapku sambil melambaikan tangan kepada Lila, Dina dan Uswah. Selama ini kami selalu bersama, baik susah maupun senang kami lewati bersama dan kami bersahabat cukup lamanya. Tetapi kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa persahabatan kami agak merenggang. Aku bersama dengan Lila sedangkan Uswah bersama dengan Dina. Aku merasa ada pembatas antara kami. Kepercayaan sedikit hilang. Banyak hal yang aku dan Lila sembunyikan ataupun sebaliknya Uswah dan Dina. Aku merasa cukup kehilangan dan sedih. “ Ada apa dengan persahabatan kami saat ini?? “ tanyaku dalam hati.“ apa penyebab ini semua, apakah bisa kami seperti dulu lagi, bercanda tawa dengan lepasnya tanpa adanya pembatas antara kami? “ sekali lagi aku bertanya pada diriku, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya. Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berempat. Aku, Lila, Dina dan Uswah. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku yang begitu indah dan mengasyikan. Satu hal yang kusesali saat ini, “ mengapa aku harus egois dan diam saat melihat persahabatan ini hancur??! “ sesalku dalam hati. Perjalanan hidup memang panjang. Membawa pertemuan dan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup ini dan memikirkan tujuan masa depan kita. Walaupun persahabatan ini bukan yang pertama bagiku, tetapi satu persahabatan inilah yang dapat membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih bermakna.


MENGGAMBAR AYAH

PADA umur sepuluh tahun, aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam dan kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir tentang apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran ibu. Aku sering berpikir bahwa mestinya ibu tidak usah membenciku. Akan lebih baik sekiranya ia mencintaiku seperti ibu-ibu yang lain mencintai anaknya. Tetapi rupanya ibu lebih suka membenciku.

Perseteruanku dengan ibu sudah dimulai bahkan ketika usiaku baru empat bulan dalam kandungannya. Ibu menghendaki supaya aku jangan pernah nongol sama sekali dari rahimnya. Ia menyorongkan segala jenis obat-obatan ke dalam perutnya untuk menggodam kepalaku, melubangi paru-paruku, melemahkan jantungku, dan meracuni pertumbuhanku di dalam rahimnya. Karena itulah aku justru berdoa sepanjang siang sepanjang malam agar diberi kekuatan untuk bertahan dari upaya-upayanya memberangus kehadiranku. Selain itu, aku juga memohon pertolongan kepada teman-temanku - makhluk-makhluk putih yang diperintahkan untuk menjagaku - agar mereka membantuku menahan gempuran-gempuran yang dilancarkan perempuan itu.

"Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku?" tanyaku kepada mereka.

"Ia takut melahirkan serigala," jawab salah satu.

"Ia menganggapku seekor serigala?"

"Perempuan itu mendapatkanmu dari jalanan."

"Karena itu aku dianggapnya serigala?"

"Karena itu kau dianggapnya serigala."

Itu bukan salahku. Aku ingin memprotes. Tetapi temanku bilang bahwa perempuan itu tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya tidak ingin membesarkan benih yang menerobos ke dalam rahimnya dari pipa lelaki jalanan.

"Tapi itu salahnya!" jeritku. "Ia sendiri menyukai jalanan. Bukankah ia selalu melenggang di daerah-daerah di mana lelaki menggelepar di sembarang tempat?"

Aku membayangkan beribu-ribu lelaki menggelepar di semak-semak, bagai ular yang sedang mengintip mangsa. Mungkin ibuku dipagut ular-ular itu dan kemudian tumbuh benih di dalam rahimnya. Tumbuhlah aku.

Mungkin karena malu perutnya makin besar, ibuku lalu ingin merontokkan benih itu. Alangkah jahatnya. Bagaimanapun aku harus lahir, tidak peduli bentukku nanti akan seperti apa. Bila nanti sudah kuat badanku, akan kutampar ibuku agar ia tahu kesalahannya.


TEMAN-temanku membangun benteng yang liat untuk melindungiku. Di depan benteng itu mereka berjaga-jaga. Sekuat-kuatnya mereka menghalau racun yang membidik nyawaku. Meski benteng yang melindungiku sangat kukuh, dan teman-temanku tak pernah lalai menjagaku, kadang-kadang ada juga racun yang lolos dan berhasil menyentuh kulitku. Tubuhku panas sekali dan mataku pedih setiap kali ibuku menjebloskan obat ke dalam perutnya. Dari hari ke hari obat yang ditelannya semakin kuat.

"Kelihatannya aku tak mampu lagi melindungimu," kata makhluk putih suatu ketika. "Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Aku terharu oleh kesetiaannya. Temanku itu memang kelihatannya sudah kepayahan. Tubuhnya yang putih mulai berubah kebiru-biruan. Tapi teman yang baik tidak pernah menghitung keselamatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya. Temanku yang satu lagi masih lumayan. Dia lebih kuat daya tahannya. Hanya kepalanya saja yang agak pening.

"Kuharap kau sendiri masih kuat," katanya kepadaku. "Tinggal setengah bulan lagi."

Setengah bulan terlalu lama. Tiga hari setelah itu aku memberontak keluar dari perut ibu. Kubilang kepada teman-temanku, aku sudah tidak kuat lagi. Kuminta kepada mereka untuk mendesakku keluar.

"Kau siap?" tanya mereka.

"Mungkin tidak. Tapi ia terus menghujaniku dengan racun. Aku ingin keluar saja," jawabku.

Mereka mendorongku keluar. Tangisku merobek nyali ibu. Ia pingsan setelah melahirkanku. Kepalaku tidak bagus bentuknya, kedua mataku melotot besar, dan tanganku panjang sebelah. Setelah siuman, ibu membesarkanku dengan rasa marah. Ia menjadi angin puting beliung yang membanting-banting aku. Aku merasa kesepian karena makhluk-makhluk putih tidak lagi berada di sebelahku.

Kupikir mereka kembali lagi ke langit. Karena itu ketika malam jatuh, aku suka melompati jendela dan tidur-tiduran di belakang rumah memandang langit. Aku rindu kepada teman-teman yang menjagaku. Mungkin satu ketika mereka akan tampak di antara bintang-bintang. Melompat-lompat dari bintang satu ke bintang yang lain. Kepada bintang-bintang di langit aku berpesan. "Bila kalian melihat teman-temanku, suruh mereka datang ke rumah. Masuk saja lewat atap rumah, jangan sampai ketahuan Ibu."

Setelah berpesan demikian biasanya aku masuk lagi lewat jendela yang sama. Di kamar, kubenturkan pandanganku pada langit-langit ruangan sambil terus berharap bahwa teman-temanku akan meluncur dari bubungan atap menemuiku. Tapi biasanya di langit-langit kamar aku hanya bisa menemukan kecoak. Kau tahu, makhluk ini tidak pernah menjadi teman bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sudi berteman dengan kecoak. Ibuku juga tidak suka pada kecoak; ia selalu mencopot sandalnya jika melihat seekor kecoak melintas dan memukul-mukulkan sandal di tangannya sampai binatang itu pecah tertampar sandal.

"Kenapa kau tidak melakukan protes?" tanyaku padanya suatu hari.

"Apa yang bisa diprotes?" ia balik bertanya dengan nada sengit.

"Kalian selalu dibunuh tanpa salah.”

“Karena kami kecoak.”

"Begitukah?"

"Kau juga kecoak."

"Aku manusia."

"Bagi ibumu, kau adalah kecoak."

"Kau menghinaku. Ibuku menganggap aku serigala."

"Kau hanyalah kecoak."

"Aku ingin membunuhmu karena kau menghinaku."

Aku betul-betul ingin membunuhnya. Sebab kecoak tidak boleh menghina manusia. Aku melesat ke langit-langit memburu kecoak itu. Ia terbang. Aku melompat-lompat dari tempat tidur ke meja, dari meja ke dinding, dan kemudian dari dinding ke dinding. Kecoak dan aku saling berkejaran menimbulkan suara berdebam-debam.1)

Ibu mendobrak daun pintu kamarku dan menghantamkan caci maki ke telingaku. Mulutnya menyemburkan badai dan bau alkohol. Sebetulnya aku ingin bilang padanya, "Kenapa ibu selalu datang membawa badai kepadaku?" Tapi badai tak pernah bisa disela oleh pertanyaan apa pun. Ditamparnya aku dengan sandal hingga terpelanting. Kecoak yang kuburu terbang keluar kamar.


IBU tidak pernah tahu bahwa aku selalu rindu kepadanya. Bila aku mau, sebetulnya bisa saja aku menyelinap ke kamarnya ketika dia tidur, lalu kucekik batang lehernya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Aku orang yang rindu. Rindu kepada apa saja. Kepada bintang-bintang, kepada kecoak di langit-langit kamar, kepada makhluk-makhluk putih yang telah menyelamatkanku, dan kepada tangan ibu.

Aku rindu tangan ibu di atas dahiku, dan kemudian tangan itu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur. Tidak pernah ia melakukan itu. Rasa rindu menjadi racun yang menyumbat jalan darahku. Kadang-kadang nafasku terasa sesak. Mungkin racun itu telah pula menyumbat jalan nafasku.

Aku juga rindu kepada ular-ular. Salah satu dari mereka pasti bapakku. Aku ingin menyapa mereka dan mengatakan, "Selamat pagi, Pak. Ini aku anakmu. Kulihat rambutmu sudah banyak beruban. Aku ingin mencabuti ubanmu agar kau kelihatan lebih muda. Atau kau ingin kubikinkan minuman?"

Ibu tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa dipanggil bapak kepadaku. Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu adalah bapakku, aku akan sangat berbahagia. Mungkin ia seorang lelaki yang suka membunuh perempuan dan mengisap air liurnya agar memperoleh ilmu kesaktian 2), atau mungkin ia orang yang suka menampar orang lain ketika mabuk. Tak apalah. Yang penting ada orang yang bisa kupanggil bapak. Aku sudah mempersiapkan diri untuk memanggil bapak kepada siapa pun yang dibawa oleh ibu.

Tapi orang yang bisa kupanggil bapak itu tak pernah datang. Agaknya ibu tidak pernah berpikir untuk memberiku seorang bapak. Maka aku membikin sendiri bapakku. Di kamarku, aku menggambar sebatang penis. Panjang seperti ular. Aku sebenarnya menggambar bapakku. Ia melingkar membelit dinding-dinding kamarku. Setiap hari menjelang tidur aku bercakap-cakap dan mengadu kepadanya. Kulihat kepalanya berdenyut-denyut. Ia hidup. Ia bicara. Ia menanggapi semua keluhanku.

Gambar itu kemudian menjadi apa saja. Ia tidak hanya menjadi bapakku, tetapi juga guruku. Aku belajar tentang apa saja dari dia. Belajar bagaimana menyalurkan kehendak, belajar memberontak, dan belajar mempertahankan keinginan. Aku belajar cara mendesakkan keinginan dari gambar penis yang menjulur di dinding kamarku.3)

Makin hari rasanya kami menjadi semakin dekat. Aku dan gambar itu. Aku ingin dia menemaniku di mana pun aku berada. Aku ingin selalu berdekatan dengan bapakku sehingga ia bisa selalu mengawasi pertumbuhanku. Bapak yang baik katanya harus bisa menjadi ayah, guru, dan kawan bermain bagi anaknya. Kalau aku ingin bapakku menjadi kawan bermain, aku menggambarnya dalam ukuran kecil. Bila aku ingin ia menjadi guruku, aku menggambarnya dalam ukuran besar.

"Kau harus selalu di sampingku, Bapak," kataku. "Kau harus mengawasi pertumbuhanku. Banyak anak-anak yang kehilangan jalan karena terus-menerus ditinggal bapaknya. Aku tidak mau menjadi anak yang hilang jalan."

Agar ia selalu dekat denganku, maka aku pun menggambarnya di mana-mana dalam berbagai ukuran. Kadang-kadang kupasangkan dasi pada lehernya. Aku senang sekali melihat ia mengenakan dasi, ia tampak seperti orang kantoran. Kadang-kadang kupasangkan kumis di atas mulutnya. Ia tampak berwibawa dan mirip seorang kepala negara.

Sebentar saja dinding rumahku sudah sesak oleh gambar bapakku. Lantas aku menggambari semua dinding yang ada di hadapanku. Anak-anak lain senang melihat aku menggambar muka bapakku di mana-mana. Aku terus berjalan menyusuri tembok-tembok kota. Anak-anak yang menguntitku makin banyak. Kuperkenalkan satu per satu mereka pada bapakku. Mereka tertawa terkekeh-kekeh.

Aku senang melihat mereka terkekeh-kekeh.

Tapi tidak setiap orang suka melihat anak-anak tertawa. Satu hari seseorang marah kepadaku karena aku dianggap mengotori temboknya. Disemburnya aku dengan maki-makian, aku diam saja.

"Anak gila! Di mana otakmu?" hardiknya.

Aku benci sekali kepadanya. Kupikir dialah yang gila. Aku menggambar bapakku, kenapa dia marah?"

"Kamu boleh juga menggambar bapakmu sendiri. Jangan marah-marah kepadaku," aku membalas hardikannya.

Ketika dia menghapus gambar yang kubikin, aku tidak bisa mendiamkannya. Aku tidak suka perbuatannya. Ia ingin memisahkan aku dari bapakku. Maka kutampar mukanya. Hanya itulah hadiah yang pantas bagi orang yang menggangu urusan rumah tangga orang lain.

"Kalau kau pisahkan lagi aku dengan bapakku, aku akan menamparmu lebih keras."

Aku senang sekali bahwa rupanya ia kapok berurusan dengan aku. Harus kau ingat ini, terhadap orang yang tidak mau memahami orang lain, kita kadang-kadang memang harus berlaku keras. Itulah yang aku ajarkan kepadanya agar ia bisa menghormati kebahagiaan orang lain. Setiap orang tidak boleh hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.

Namun orang itu rupanya cukup licik. Ia lapor ke ibuku. Dan ibu menggamparku berkali-kali setelah peristiwa itu.

"Anak gila! Di mana otakmu?" ia menirukan orang yang baru aku tampar.

"Aku menggambar bapakku," jelasku. "Kenapa kau memukulku?"

Ia menatapku seperti melihat onggokan sampah. Aku melihatnya juga seperti melihat onggokan sampah. Bila aku mau, bisa saja nanti malam aku menyelinap ke kamarnya dan mencekik lehernya sampai mampus.

"Bila aku mau, bisa saja nanti malam aku menyelinap ke kamarmu dan mencekik lehermu," kataku. "Kenapa kau tidak lari saja ke puncak gunung?"

Mataku berpijar bagai sumbu granat. Aku bisa meledak saat itu juga dan menghancurkannya.

"Aku ingin kau menyelamatkan diri ke puncak gunung," saranku lagi.

Aku harus bilang itu kepadanya. Aku adalah orang yang rindu kepada apa saja. Tapi ibu tidak tahu bahwa aku merindukannya. Dulu ia berpikir bahwa ia akan melahirkan serigala dari rahimnya. Menurutku, ia harus hati-hati terhadap pikirannya sendiri karena pikiran buruk bisa mencelakakan diri sendiri. Jadi biarlah ia pergi ke puncak gunung saja. Kupikir itu jalan yang terbaik baginya. Bila esok pagi matanya masih bertumbuk dengan mataku, aku akan mencekik lehernya. Sebab, tak bisa aku terus-terusan melihat onggokan sampah di dalam rumahku.

Keesokan paginya, ibu merangkak ke puncak gunung.4) Aku tetap menggambar ayah di mana-mana, tetap tidur di belakang rumah ketika gelap turun, dan tetap kangen kepada ibu. Kini aku suka bercakap-cakap dengan puncak gunung yang tampak dari jendela kamarku. Di sana ada ibuku. ***

MELEPASMU

Semuanya sudah siap. Sebuah tas berisi pakaian miliknya. "Kau yakin dengan keputusan ini nick?" tanya widya."Aku udah pikirkan baik-baik semua ini, dan menurutku ini adalah keputusan terbaik wid, makasih bgt untuk semuanya ya,hanya kamu yang bisa mengerti aku,mau mendengar curhatku,dan selalu ingatkan aku".lanjut nicky.Mereka lalu berpelukan."Kamu jangan lupakan aku ya nick,selalu kasih kabar".ucap widya dengan sedih."Sampai kapanpun kau adalah sahabat sejatiku,aku tak akan pernah melupakanmu".nicky menjawab.Bus mulai melaju. Hati nicky masih diliputi galau tak karuan.Sambil meneteskan airmata nicky membalas lambaian tangan widya.Dari tempatnya berdiri widya kelihatan sedih.Dan lambaian itu pun semakin menghilang seiring bus yang terus melaju.Ditempat duduknya nicky mulai mengingat apa saja yang telah dia alami selama 4 tahun lebih di kota itu.Kota yang penuh dengan orang-orang dengan sifatnya masing2 yang kadang sulit dimengerti.Nicky teringat pertemuan itu,yang merupakan awal dari semua ini.cowok itu begitu baik,ramah dan sambil memgulurkan tangan,"Vino" begitu dia menyebutkan namanya.Entah apa yang dirasakan itu sekedar kagum atau jatuh cinta,nicky sendiri merasa tidak yakin.Dua tahun berlalu dan perasaan itu masih saja selalu sama setiap dia bertemu vino.Dan herannya setiap vino bertemu dengan nicky,selalu menunjukkan sikap yang membuat nicky salah tingkah.Vino seakan punya perasaan yang sama terhadap nicky."Bisa memiliki Vino itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak akan mungkin terjadi"batin nicky, dia sadar dan cukup tahu diri,tak pantas untuk Vino.Vino terlalu sempurna untuk nicky.Sampai suatu hari nicky mendapatkan tugas dari tempat kerjanya yang mengharuskannya untuk bertemu dengan Vino.Entah perasaan apa yang ada dihatinya waktu itu,nicky sendiri tak tahu.Ada rasa senang,ada rasa canggung bercampur ketika bertatap muka lagi dengan Vino setelah sekian lama tidak bertemu. Bulan kedua setelah pertemuan itu, nicky menjadi semakin akrab dengan Vino. Hatinya berbunga2 setiap bertemu dengan vino.Bahkan mereka jujur kalo saling mengagumi. Tak pernah ada kata "jadian" tapi sudah beberapakali mereka sempat keluar bersama untuk sekedar jalan2.Bahagia rasanya hati Nicky saat itu. Hari2 nya selalu diwarnai canda dan tawa bersama vino.Namun di tengah kebahagiaan itu nicky sadar sepenuhnya kalau suatu saat dia harus berpisah dengan Vino yang kenyataannya sudah menikah.Bahkan setiap pertemuan harus diatur agar tak ketahuan."Ini harus secepatnya diakhiri" jerit hati nicky.Tapi perhatian dan kasih sayang vino mampu menahan nicky hingga dia tidak bisa menjauhi vino.Tidak ada yang salah dalam kehidupan pernikahan vino,tapi dia hanya bilang "aku jatuh cinta lagi padamu nicky".Dan itu selalu membuat nicky tak berkutik.Sebesar apapun rasa itu ada,tetap semua ini harus diakhiri.Dalam bus itu nicky berusaha memejamkan mata untuk melupakan semua kenangan itu.2 tahun sudah dia jalani hari2 indah bersama vino,dan semua itu harus berhenti sampai disini. "Ini untuk kebaikan kita nick" waktu itu vino memberi pengertian pada nicky."Kenapa dulu kau mendekatiku,kalau hanya untuk menyakitiku vin?"di iringi tetesan air mata nicky berusaha memahami semua yang telah terjadi."Maafkan aku nick,tapi aku pikir kamu akan lebih bahagia bersama pria yang masih single.""kenapa kau jahat padaku vin...?" hanya itu kata yang mampu keluar dari mulut nick...


BERKELABAT DALAM KENANGAN

Napasku tertahan, aku teringat pada Syams, tapi bukan merindukannya. Saat napasku kembali pada ritmenya yang teratur, adegan-adegan bersama Syams di masa lalu berkelebat dan silih berganti datang seperti video usang yang diputar ulang dalam player yang baru. Bukan tanpa alasan aku teringat padanya, kondektur itulah yang memancing riak-riak kecil keceriaan kami hingga kembali terkenang. Kondektur itu menyentuh bahuku dan aku merasa dia keras sekali menekannya. Aku mengambil uang receh dari saku rokku dan setelah itu bayangan Syams muncul di hadapanku, menyamarkan pemandangan menyesakkan tentang kemacetan di dalam kota. Saat itu aku masih berkerudung lebar ( terbawa suasana rohani islam masa SMA ), asyik dengan kegemaranku, menulis di balik kertas-kertas makalah yang sudah dipakai ( seperti sekarang ). kelas dalam suasana sepi, hanya ada Syams, Debbi dan genknya, serta aku. Posisi duduk kami saling berjauhan, kecuali antara Syams dan aku. Pemuda itu duduk tenang, membaca buku Aa Gym di bangku pojok depan kelas, sedangkan aku duduk di bangku ketiga di belakangnya. Kami tidak saling bicara karena memang tak ada yang ingin kami bicarakan ( mungkin... tapi aku tak yakin dengan itu ). Lalu, Riva'i - teman sekelasku yang lain - masuk terburu-buru. Dia tertawa nakal - puas - lepas. Aku melihatnya ( hanya sekadar melihat ) untuk mencari informasi dari ekspresinya, dan ku tahu dia juga menatapku. Aku acuhkan dan kembali menulis, tak tahu apa yang dia lakukan, dan memang tidak ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Sejurus kemudian, tanpa aku sadar dia sudah berdiri di sampingku. " Apa? " tanyaku sambil tersenyum, kalau-kalau dia butuh bantuanku. Dia memberikan senyuman manis padaku. Tanpa bicara, dia tiba-tiba menyentuh pundakku. Refleks aku berteriak, " Riva'i !! Apa-apaan sih?!" teriakku sambil merebut tubuhku. Sontak, Syams langsung menatap kami. Dia menggebrak meja, dan aku terpana dibuatnya. " Riva'i!!!" bentaknya, matanya geram. Riva'i tertawa lalu berlalu, Syams seperti hendak mengejarnya, tapi dia menatapku, aku menunduk, dan dia berdiri mematung, hanya sebentar, untuk kemudian duduk kembali. Aku tahu Riva'i tidak serius, tapi aku tahu Syams serius, karena itu aku terpana dibuatnya. Aku pun tersenyum mengenang kejadian heroik itu. Setibanya di kampus, aku duduk di samping jendela. Ku buka lebar hingga angin lantai tujuh berhembus dengan kuat, menyibakkan kerudungku. Kelas masih sepi dan suasana itu lah yang membuatku melamunkan kembali kenangan antara Syams, aku, dan kelas. Aku menggosok-gosokkan tangan. Angin tanpa izin masuk menyerbu pintu kelas. Ku tiup telapak tangan beberapa kali. Mataku tetap sibuk memperhatikan Bu Nur beserta jejeran kata yang dikemukakan Faraday hingga menari-nari di depan mataku, menambah diriku untuk terseret ke alam bawah sadarku sendiri. Entah berapa lama aku sibuk menggosok tangan dan tubuhku. Sampai aku tiak menyadari Syams tengah memanggilku. " Iya!" seruku pelan. Dia berhenti menggerakkan bibir, kami saling bertatapan ( aku tidak yakin apa kami memang tidak merasakan perubahan apa-apa pada aliran darah kami ). Aku menaikkan alis, dia mengerti aku bertanya, maka dia jawab dengan tenang -seperti biasa- " Mau pakai jaket Syams? ". Tuhan... bimbing aku untuk terus berusaha tenang. Aku pun terpana dengan kejadian heroik itu. Bahkan kini aku tengah tersenyum, ku yakin pipiku pun memerah saat ini, saat mengenang jaket hijau itu menempel di tubuhku. Dosen Linguistikku sekarang tengah asyik menunjukkan kemahirannya menguasai tiga bahasa asing, dan itu mengingatkanku pula pada kejadian antara Syams, aku, dan kelas. Bu Ida, guru Bahasa Indonesiaku tengah mengajar dengan ceria seperti biasa, dia menyuruh tiap siswa memilih siapa lawan mainnya dalam drama singkat. Kebetulan Syams yang diminta memilih, dengan lantang-tegas-tanpa ragu dia menyebut namaku. Teman-teman mengarahkan pandangan pada kami, tapi seperti sudah terbiasa dengan kejadian macam itu mereka tak berkomentar, atau mungkin segan mengomentari Ketua Rohis itu. Aku pun terpana dibuatnya. Kemudian, ribuan pertanyaan yang saling beranak-pinak melayang-layang di otakku, hingga sekarang. Tentang Syams, aku, dan apa yang akan terjadi nanti - di kala kami kembali bertemu - walau kami mungkin tengah digandeng atau menggandeng pasangan hidup kami kelak. Riva'i, angin, Bu Ida, drama, semua kenangan selama dua tahun bersama- di kelas yang sama-... hanya sebagai perantara agar kami mempunyai kenangan hingga akhirnya kami akan bertemu kembali dan aku yakin itu. Bertemu kembali dan melempar pertanyaan " Bolehkah aku sekedar mengenangmu dengan debaran di hati?".


HUJAN

Darmo meninggalkan kantor jam tujuh lima belas malam setelah menyelesaikan pekerjaan rekannya yang tidak masuk karena sakit. Udara dingin, angin bertiup agak kencang, membuatnya menyesal tidak membawa baju hangat. Ia membawa payung yang cukup untuk satu orang, duduk di halte bis di sebelah wanita hamil. Ia tidak terburu-buru, lagipula jika ada maksud terburu-buru maka segeralah maksud itu diurungkan karena macet di jalanan belumlah hilang. Antara ia dan wanita itu sama-sama tahu kalau mereka bekerja di gedung yang sama. Wanita itu berharap Mo dapat menemaninya hingga dia mendapatkan taksi. Tapi mereka tidak berkenalan. Mo meninggalkannya sendirian setelah mendapatkan bis yang tidak terlalu penuh penumpang.

Mo duduk di samping jendela, membuka kaca jendela lebar-lebar lalu mengeluarkan kepalanya sedikit untuk melihat hal-hal yang sama tiap harinya: kemacetan, polisi lalu lintas bertubuh gemuk, iklan-iklan besar di papan reklame, iklan-iklan di spanduk, iklan-iklan elektronik dengan slogan berjalan, kafe pinggir jalan, ruang-ruang santai, pedagang kaki lima, mobil-mobil mewah di jalur cepat, gedung-gedung dengan beberapa ruangan yang masih terang, anak-anak jalanan, orang-orang yang duduk dan berdiri menunggu bis. Jalanan ini telah menjadi bagian hidupnya selama delapan tahun. Sering ia bertanya apakah ia akan masih di jalan yang sama tahun depan? Ia masih ingat apa yang dia pikirkan di perjalanan pulang kemarin: pekerjaannya, keluhan teman-teman kantornya, rencana akhir pekan, rencana cuti, alasan mengapa ia terjebak dalam kejenuhan kerja, masa lalunya, dan … hujan turun. Ia menutup jendela. Suara bising jalanan berubah menjadi gemuruh hujan. Ia menikmatinya karena inilah irama yang bisa menemaninya tidur.

Tiba-tiba air jatuh di atas lengannya, masuk dari sela-sela jendela, menciprat semakin deras seiring bis berlari kencang. Ada sesuatu yang mengganjal jendela sehingga tidak menutup penuh. Untungnya ini akhir pekan, jadi tidak mengapa ia terpaksa berbasah-basahan. Penumpang pria di sebelahnya tersenyum menaruh simpati. Tapi simpati tidak merubah keadaan. Mo tidak bisa kembali tidur. Ia menutupi lengannya yang basah dengan tasnya.

Mo turun di gerbang tol II dan akan melanjutkan perjalanan dengan bis yang lain. Anak-anak kecil berebutan menawarkan ojek payung di pintu keluar. Mo mengangkat tangan dan menunjukkan payungnya pada mereka. Di pinggir jalan, seorang lelaki tua berdiri kehujanan. Mo berjalan ke arahnya dan berbagi payung kecilnya. Lelaki tua itu mengucapkan terima kasih. Mo sengaja menggabungkan payungnya dengan payung kecil milik seorang wanita sehingga dapat memayungi tiga orang. Ia menanyakan tujuan lelaki tua itu. Lelaki tua itu menjawab ke Purwakarta. Lelaki tua itu seorang pesuruh di sebuah bank di Jakarta dan terbiasa pulang pergi di hari kerja. Capek bukanlah masalah, lelah sudah jadi bagian hidupnya karena keluargalah yang utama, demikianlah lelaki tua itu berkata padanya. Mo berfikir seharusnya dirinya lebih mensyukuri kehidupannya. Tentunya, gajinya lebih besar dari lelaki tua itu, pekerjaannya lebih baik dan jarak rumah dan kantor tidak sejauh lelaki tua itu. Tidak berapa lama lelaki tua itu mendapatkan bis-nya dan mohon diri sambil mengucapkan terima kasih.

Malam semakin larut, orang-orang yang menunggu bis terus bertambah. Preman-preman yang biasa meminta paksa uang pada kernet bis tidak kelihatan malam itu. Mereka berlindung di rumah masing-masing menikmati pisang goreng buatan sang ibu. Hanya beberapa pedagang yang masih bertahan. Anak-anak kecil menawarkan payung pada penumpang yang turun dari bis. Beberapa orang menyambutnya, yang lain menolaknya karena membawa payung atau terlalu pelit mengeluarkan sedikit uang. Orang-orang datang dan pergi, Mo masih menanti bisnya.

MO samar-samar melihat seorang perempuan datang berlari padanya, menutupi kepalanya dengan tas. Rambut dan seluruh tubuhnya basah hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Perempuan muda itu mengenalinya. Mo tersenyum padanya, menyapanya dan memberi ruang padanya untuk berteduh. Mereka pulang ke arah yang sama. Di bis yang sama mereka duduk bersebelahan.

Perempuan itu bernama Nur. Tidak ada kerinduan diantara mereka meski telah sekian lama tidak bertemu. Pembicaraan ringan hanya untuk menghabiskan waktu sambil menunggu berpisah. Mo sesekali melirik wajahnya, menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi Nur hanya diam sambil memandang ke arah luar. Tidak ada masalah di antara mereka. Ini hanya pertemuan biasa yang bisa terjadi setiap saat.

Uap dingin menutupi jendela, bias-bias lampu berlarian, air menetes dari atap bis dan jatuh di lengan Mo. Ia berpikir bagaimana ia bisa mendapatkan dua bis bocor dalam satu perjalanan. Ia mengeringkan dengan tangan kirinya sehingga membuat lengan kanannya dan lengan kiri Nur bersentuhan, merasakan bulu-bulu halusnya Nur, menggetarkan hatinya. Pandangan mereka bertemu namun hanya sesaat karena mereka kembali tenggelam dalam pikiran lain.

Bis berhenti. Mo yang turun pertama menanti Nur di samping pintu keluar sambil memegang payung dengan tangan kirinya. Tangan kanannya diulurkan untuk menyambut tangan Nur. Tapi Nur tidak melihat tangan Mo. Ia melangkah turun setengah terhuyung dan hampir terjatuh jika tidak memegang bahu Mo. Dan mata mereka bertemu sesaat. Mereka berjalan melewati genangan air, mencari bagian yang lebih tinggi, menghindari kendaraan yang datang dari arah belakang dan lewat di samping kanan mereka. Mo berjalan di belakangnya, memayunginya, tapi ia membiarkan dirinya basah. Nur memuji kebaikan Mo. Mo memuji kecantikan Nur. Masing-masing mengatakannya dalam hati.

Mo mengatakan bahwa kemacetan, rutinitas kerja yang menjemukan, bos yang menyebalkan dan trik-trik menyenangkan hati bos merupakan kesan yang tidak pernah dirasakan oleh manajer perusahaan atau bos-bos besar. Tapi ia mencoba untuk tidak mengeluh.

“Bukankah ini berkah dari Tuhan?” lanjut Mo. Yang ia maksudkan adalah keberkahan menjadi seorang staf biasa.

Nur mencoba untuk sependapat. Namun baginya menjadi seorang bos atau menajer itu jauh lebih baik; punya supir pribadi, tidak kehujanan dan gaji besar.

“Tentu saja aku memilih menjadi bos” jawab Mo sedikit kecewa. Padahal ia hanya ingin mengatakan jika pernyataannya tadi hanya untuk menyenangkan staf biasa seperti dirinya dan perempuan itu.

Angin dan hujan datang dari arah kanan mereka, membuat Nur semakin rapat pada Mo. Mo pindah posisi ke sebelah kanan Nur. Ia membayangkan memeluk Nur dengan sebelah tangannya atau mengeringkan wajah Nur dengan sapu tangannya. Payungnya tidak kuat menahan angin dan hampir-hampir terbalik jika ia tidak menahannya dengan tangannya. Tiba-tiba sebuah mobil sedan yang datang dari belakang mereka mencipratkan air dan tanah, dan mengenai wajah Mo. Nur melompat pendek ke samping kiri. Mereka berhenti melangkah. Nur memerhatikan wajah Mo yang kotor dan memberinya sapu tangan. Mo meraih sapu tangan putih itu, mengucapkan terima kasih namun enggan mengotorinya.

“Staff only” kata Mo.

Mereka tersenyum, mereka tertawa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian ini dialami oleh keduanya dengan siapapun. Mereka berjalan mendekatkan diri, memegang payung bersama seiring arah angin dan hujan yang datang tak beraturan.

Tuhan menurunkan hujan untuk maksud-maksud tertentu yang terkadang tidak dimengerti manusia. Dan untuk segala maksud yang dipahami seharusnya menjadikan manusia selalu bersyukur. Pertemuannya dengan Nur membuka kenangan Mo saat ia masih sekolah. Ia pernah jatuh cinta padanya tapi tidak pernah menyatakannya. Waktu itu semua anak lelaki mendambakan Nur untuk menjadi kekasihnya. Mereka datang dengan kelebihan masing-masing: ketampanan, kekayaan, kepintaran atau sekedar pesona menarik perhatian. Mo hanya orang biasa dan tidak diperhatikan. Nur mengingat Mo sebagai anak lelaki yang meminjamkannya payung saat hujan deras di jam pulang sekolah. Tidak lebih, meski Mo menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dan sebagaimana pertemuan terjadi, perpisahan datang bukan atas keinginan mereka. Di perempatan jalan Mo mengucapkan selamat tinggal. Nur membalasnya dengan ucapan terima kasih dan senyuman yang akan selalu diingat Mo. Hujan belum reda, jalan-jalan masih dipadati kendaraan, orang-orang berlarian mencari tempat teduh, anak-anak kecil menawarkan payung, para kaki lima menawarkan dagangan di sela-sela kemacetan.

Nur berteduh di depan sebuah toko, mengeluarkan telepon selularnya dan menghubungi suaminya untuk menjemputnya. Mo berjalan di jalanan sepi, orang-orang berteduh di teras toko, beberapa berlarian mendahuluinya. Ia menutup payungnya, wajahnya diarahkan ke langit, merasakan air dingin jatuh ke wajahnya, membayangkan kembali ke masa lalu ketika ia membiarkan dirinya kebasahan demi perempuan itu dan pulang dengan teguran ibunya. Ia tersenyum membayangkan pertemuannya tadi. Ya, perempuan itu teramat cantik untuk seorang lelaki biasa.

Mo mempercepat langkahnya, memegang payung di tangan kiri dan tangan kanannya memeluk tas. Ia bergegas karena di rumahnya seseorang menunggu, seorang perempuan yang lebih ia cintai.

MALAIKAT Q TAK BERSAYAP

5 April, Rumah sakit, sebuah tempat dimana semua ruangan didesain dengan warna putih, sayu.....suram dan memancarkan warna kesedihan. Tak ada yang pernah suka jika harus berlama-lama tinggal disini, rasanya kehidupan memang benar2 akan pergi. Namun Kayla tak pernah habis pikir, kenapa orang tuanya bersikeras membawanya pergi ke tempat menyeramkan ini. ”Kenapa sih harus ke sini lagi, pa gak ada tempat lain lagi???” Kayla merajuk ”Lo tuh za, ngikut bin nurut dikit kek ma nyokap bokap loe.....! mereka kan masukin loe kesini juga karena sayang ma loe....!!!” Dio mencoba menenangkan Keyla yang sedari tadi ogah2 an pergi ke rumah sakit, ”Sayang ato pengen melihat gue tambah sekarat disini? Ha????” ”Terserah loe deh Kay,!” Dio mendorong kursi roda Kayla dengan tetap mendengarkan celoteh Kayla yang semakin gak karuan, tapi bagi Dio celotehan Kayla tersebut bukanlah hal yang tidak menyenangkan, justru hal itu menandakan bahwa Kayla masih sehat dan 100 % wal’afiat........(pikirannya maksudnya.....!!!) Check up yang benar-benar melelahkan, jika ditambah celoteh Kayla, tau kah apa yang akan terjadi? Jika anda menjawab telinga bocor pundak lemes dan tangan hampir putus.....anda hampir benar . Karena jawaban yang paling benar adalah.........Streesssss!!! Dan itulah yang dirasakan Dio hari itu, Kayla yang bersikeras tak mau ditinggal pergi olehnya sampai check up selesai membuatnya tak berdaya dan tetap menemani sahabat terbaiknya itu. ”Yo, capek za?? ”Menurut loe??”Jawab Dio dengan mata mendelik ! ”Maapin gue deh.....!!!”Rayuan Kayla emang paling mantab didunia, ditambah dengan mata yang agak dikedipkan, gak akan ada yang bisa nolak kemauannya. ”Iya iya.....udah gak pa-pa ! Gue udah kebal ma loe......dah gak ngaruh!!!” ”Hehe, Dio emang paling baik duech.....! Besok kalo check up lagi, gue Cuma mau loe yang nganter..., ok! “Yeeeee, enak di loe kaleeee gue gaaaak !!! “Yaaah Dio……gak asyik deh…..!!! “Iza iza……cerewet amat sih….!!! “Naah, gitu dong……! Kayla tersenyum dengan sangat manis malam itu, kelelahan sama sekali tak terlihat dari wajahnya. Dio benar-benar tak pernah bisa menolak apa yang gadis itu minta. Baginya keinginan Kayla adalah suatu kewajiban yang harus diwujudkan. Karena dia benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tak melihat senyum itu lagi. Dan sayangnya, Dio tak pernah sadar bahwa selama ini dia telah jatuh cinta pada gadis itu, seorang Kayla yang tengah sekarat dan menanti maut yang setiap saat bisa menghampirinya karena penyakit kanker darah yang menggerogoti tubuhnya. 7 April, ”Huuuuuaaahhh,” Dio menguap sangat lebar, hari ini dia benar-benar lelah setelah kemarin menemani Kayla yang manjanya setengah mati. Padahal dia sudah tidur hampir genap dua hari, namun ternyata rasa emang gak bisa bo’ong (njiplak iklan dikit kan gag papah!!) badannya masih terasa pegal......remuk semua. ”Dioooooooooooooooooooo,!!!” Suara merdu setengah mati Kayla kembali mengganggu tidur yang kurang nyenyak Dio.” Banguuuuuunnnnn.....!!! ”Apaan sich...!!!Baru juga jam setengah enam, tanggung nich,” Tukas Dio sembari menarik selimut motif Harry Potter kesayangannya. ”iiiihhhhh, Dio pemalas ah.....!” ”Duuuh punya tetangga satu aja kok kayak loe sich.....???” ”Bentar lagi kan UAN, jadi intinya kita harus selalu semangat buat pergi ke sekolah mulai mhari ini,” Kayla kemnali berkicau dengan suara yang merdu ”Biarin, bodo’!!!”Selimut Dio semakin lengket menempel di tubuh Dio ”Ooooo, tega za biarin gadis cantik yang cacat pergi sendirian ke sekolah????ntar kalo ada apa-apa gimana?” ”Sssstttt.....”Dio menempelkan jari telunjuknya ke bibir Kayla.”Jangan pernah ulangi kata yang barusan loe bilang tadi, gue bener-bener gak suka.” Dio meninggalkan Kayla yang diam seribu bahasa, gadis itu benar-benar tidak paham kenapa katanya barusan bisa membuat Pemuda itu marah. Akhirnya perjalanan ke sekolah yang biasanya rmai dengan celotehan Kayla, kini benar-benar sunyi. Kedua remaja itu sibuk dengan pikirannya sendiri. ”Yo....!!!Sapa Kayla saat tiba di kelas.” ”Apa?” Dio menoleh pada gadis itu.” ”Maaf!!!” Tanda peace terbentuk di jari Kayla, dengan semburat senyum yang benar-benar manis.”Yang membuat Dio mau tak mau membalas senyuman gadis itu. ”Iza....gag papah, asal jangan diulang lagi, ok????” ”Sip boz.....!hehehe.... Begitulah, hari-hari yang setiap hari dilalui Kayla dan Dio, sepasang sahabat yang tak pernah menyadari bahwa sebenarnya mereka telah jatuh cinta. Hari-hari UAN yang mereka lalui pun terasa indah, walo ketegangan tetap saja menyelimuti mereka. ”Yo....ntar kalo gue gag bisa, gue nyontek loe za?????” Canda Kayla di sela-sela jam belajar mereka. ”Gampank........!!!!!” ”Bener?????” ”Iza iza.......!!!Apa to yang enggak buat loe....!!!!” 2 bulan setelah UAN, ”Yeeeeeeesssssssss,Yo.....kita berdua lulus!!!”Kayla berjoged di atas kursi rodanya ”Eh, lulus za lulus tapi jangan kayak gini, kursi loe ntar nggelinding gue gag tanggung jawab.......!!!” ”Za maap.....!!!” ”Eh Kay, nama loe paling atas tuch ndek daftar rangking, dapat contekan dari mana?” Tukas Dio sambil menjitak kepala Kayla. ”Dari sini,” Jawab Dio sambil menunjuk ke arah kepalanya sendiri.”Nah loe ndiri....nama loe di uruan no 2 kan???dapat contekan dri mana???ha??” ”Heem.....dari sini......!!!”Dengan wajah jahil Dio menunjuk ke arah Kayla. ”Yeee.......!!!!” ”Biarin, weeekkkz.......!!!” *************************************** Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kelulusan dan penyerahan kembali siswa kelas tiga kepada wali masing-masing. Dan di pagi itu, Kayla berdandan sangat cantik, Dio benar-benar terpana, Pemuda itu tak pernah melihat Kayla yang secantik ini. Dan dengan bangga Dio mendorong kursi roda Kayla ke tempat yang khusus disediakan untuknya. Namun sebenarnya ada yang mengganjal di hati Dio, entah kenapa dia merasa kalo pagi itu Kayla berusaha menyembunyikan wajah pucatnya. Tangannya pun terasa sangat dingin. Namun Dio berusaha membuang prasangka buruknya. ”Kepada saudari Kayla Wijaya, waktu dan tempat kami persilahkan.” Suara pembawa acara memanggil nama Kayla untuk memberikan pesan dan kesan pada acara tersebut. Dengan bantuan seorang guru, kursi Kayla didorong naik ke atas mimbar. ”ah....saya tak pernah tahu kalo saya akan dapat kesempatan ini. Saya benar-benar tidak ada persiapan, dan jujur saya juga tidak tahu apa yang harus saya katakan disini.” Ada jeda cukup lama sebelum Kayla meneruskan kata-katanya. ”Baiklah, mungkin disini saya pribadi sebagai seorang Kayla Wijaya akan mengirimkan beberapa ucapan terimakasih pada orang yang telah membawa saya sejauh ini. Kayla berhenti sejenak untuk mengambil napas yang dirasakannya semakin berat, namun gadis itu berusaha mengacuhkannya. ”Bapak dan ibu guru, Kay ucapin terimakasih banyak. Kay janji, Kay bakal terus mengamalkan ilmu yang udah Kay dapat. ”Teman-teman....untuk semua support dan semangat yang udah kalian berikan, makasih banyak. Kalian benar-benar teman terbaik Kay. ”Buat Papa dan Mama....,maafin Kay za???Kayla tau, Kay bukan anak yang berbakti, gak pernah nurut ma kalian, bandel dan keras kepala. Hanya ini yang bisa Kay berikan ama kalian.......” Tanpa dikomando, semua orang yang ada diruangan itu menitikkan air mata. Air mata haru sekaligus bangga. Namun, tanpa diketahui siapapun, ada sepasang mata yangtetap kering dan menatap lekat pada gadis itu. Za, sepasang mata itu adalah milik Dio, pemuda itu telah berjanji pada Kayla Bahwa ia tak akan pernah menangis di hadapan gadis itu. Dan kini dia membuktikan janjinya. Dia tidak menangis meski seluruh ruangan telah penuh dengan isak tangis. Kayla meneruskan ucapannya....... ”Yang terakhir, buat sahabat terbaik Kay ! Dio, Kay ucapin terimakasih banyak. Kay pikir Kay gag akan bisa tetep tegar tanpa kamu yang rela nemenin Kay setiap hari. Dan tanpa kamu juga, Kay tau Kay gag akan bisa melakukan ini. Kayla berusaha bangkit dari kursi rodanya, gemetar, lemah dan hampir jatuh. Semua orang di ruangan tersebut spontan berteriak saat melihat adegan itu. ”Kay....!Jerit hampir semua orang di ruangan itu. Seorang guru berlari hendak menolong Kayla. ”Makasih pak, Kayla bisa kok....!!!”Senyum misterius nan pucat milik Kay kembali mengembang . ”Dio.....Kay Cuma pengen nunjukin ini me kamu, Kay udah sehat, Kamu bener....penyakit itu datangnya dari pikiran. Kalo pikiran kita sehat...pasti kita juga kuat. Iza kan???”3 hari ini Kay latihan bangkit dari kursi roda, awalnya memang gak bisa.....tapi karena Dio, Inilah Kay sekarang.” Dio yang masih terpaku hanya bisa mengangguk pasrah, dia tak pernah menyangka Kayla akan melakukan hal itu. ”Dan yang terakhir.......Yo, makasih karena udah mau jadi malaikat Kay, walo tanpa sayap, Kamu bener-bener malaikat terbaik Kay.....!!!sekali lagi makasih banyak....buat semuanya, Kay seneng...... ”Kaaaayyyyy.....!!!”Semua orang berteriak saat Kayla mengakhiri pidatonya dengan adegan yang sangat mengejutkan, Kayla yang tenaganya hanya setengah badan, pingsan saat kembali ke kursi rodanya. Itulah saat terakhir seorang gadis kuat bernama Kayla membuka matanya, gadis yang tegar itu kini telah kembali pada pangkuan-Nya. Namun tak ada yang tahu, bahwa sesaat sebelum Kayla menghembuskan nafas terakhirnya, Kay telah membisikkan sesuatu pada Dio.....bahwa gadis itu akan selalu menjaga Dio.....Dan akan terus menjadi malaikat Dio, seperti ketika Dio menjadi malaikat tanpa sayap Kay.


SEHARI BERSAMAMU

Apa?,kamu masih dimanggarai" Nada bicaraku ketus sekali pagi itu di telephon,"iya shaz,akumasih di manggarai, ok lah aku naik ojek aja biar cepat sampai disana", jawab di seberang telephon , kulihat jam tanganku menunjukan waktu jam 6 lebih 10 menit, ya ampun... ini pasti terlambat, baru saja kudengar pemberitahuan kereta akan berangkat,terdengar di telingaku, kuhentikan langkah mondar mandirku yang tak karuan, kusempatkan untuk berdoa sejenak agar hari ini aku jadi berangkat,"ya Tuhan Please.." pintaku dalam hati, "hai Shaz!!!", tepukan tangannya di bahuku membuat aku terkejut,"oh..Baskara, syukurlah akhirnya kau sampai juga,ayo cepat kita sudah terlambat",seruku sambil kuberlari menuju loket pembelian tiket,dari tadi aku tidak mau membeli tiket karena aku takut terlambat,'"jadi mbak berangkat?", tanya penjaga tiket kereta api pagi itu"jadi pak, dua ya pak Cirex executive" pintaku,sambil kusodorkan uang pembelian tiket,"dari tadi saya lihat mbak kebingungan, sama cowoknya mbak berangkat?", "bukan pak dia temanku" jawabku sambil tersenyum kuterima tiket,danberlalu dari hadapan bpk penjaga tiket, ku berlari bersama askara menuju kereta mencari gerbong dan tempat duduk yang sesuai yang tertera di tiket, "ini tempat duduk kita askara!" sambil kutarik tangan askara agak sedikit memaksa. "syukur ya Shaz kita tdak terlambat hari ini" suara aska membuat aku sadar kalauaku sudah di tempat duduk dengan nyaman di kereta pagi itu,"iya' "Shaz sorry ya aku udah gerepotin kamu gara_gara project aku ini", "it's ok aku senang bisa membantu kamu aska" jawabku sambil ku tersenyum ku alihkan pandanganku ke luar kereta.****Klik..hpku berbunyi "shaz udah sampai mana? kho jam segini tumben belum keliatan di kantor", ya ampun aku lupa kasih khabar ke teman satu teamku heti, kalau hari ini akubolos kerja karena harus ngaterin asakara ke projectnya yang ada di tempat kelahirannu,kulihat pagi ini kereta tidak begitu penuh maklumlah ini bukan musim liburan,ku alih kan pandanganku keluar kereta rupanya stasiun cikampek baru saja terlewti,baskara terlelap tidur di sampingku, oh baskara aku tidak pernah mengenalnya, baru dua minggu ini aku mengenal dia, itupun aku tidak sengaja untuk mengenal dia,kalau bukan karena project ini mungkin aku tidak pernah mengengenal dia, melihat baskara ingat 6 bulan yang lalu sahara ya sahara begitu semangat manceritakan profile seorang baskara yang lulusan S2 luar negeri mau bekerja sebagai staff promosi di perusahaan iklan kami yang notabene perusahaan iklan lokal "Shaz elo mau kenalan ga sama baskara?", "ngapain gw kenal sama dia ga penting yang penting dia kenal gw,he..he..he." "iyalah secara elo ga ada hubungannya dengan dia ya ga penting", "iyalah itu lo tahu","tapi dia ko mau ya kerja disini" "mungkin dia pekerja keras,dan tidak sombong makanya dia mau kerja apa aja..ok". ingat pembicaraan makan siang itu aku jadi tersenyum sediri karena ga nyangka hari ini aku lagi melakukan perjalanan sama cowok yang sangat dikagumi sahara.****kulihat waktu di jam tanganku menunjukan 9.45, akhirnya aku sampai juga di Cirebon aku dan askara mnuju antrian taxi " pak jalan yos sudarso ya","baik mbak', "shaz jauh engga tempatnya dari sini","engga sekitar 16km aja aska""tankyou ya shaz kamu udah anterin aku ke project ini,"sesaat mataku dan mata sakara menyatu di udara yang membuat darah aku sesaat berhenti berdesir, "oh..iya ya.." kututupi kegugupanku dengan memberikansenyuman terindah.***makan malam special hari ini karena baru kali ini aku mengajak temanku menginap di rumahku, sesaat kulihat ke akraban ibuku yang jarang terlihat dengan beberapa teman2cowokku," iya lho Shaz ternyata askara ini orangmya suka bercanda "sahut ibuku, "memang mih dia oranggya klw belum kenal kesannya pendiam tapi... kalau sudah kenal oranggya humoris juga mih." kulihat wajah askara memerah sesaat "apa sich shaz, biasa ajalagi shaz", sahut askara"ya udah kalian teruskan ngobrolnya ibu tinggal dulu ya aska" iya Bu", sesaat aku dan askara terdiam melihat acara televisi malam itu, " cowok kamu orang mana shaz?,", pertanyaan sempat membuat aku kaget karena tak terpikir klw askara mau menyakan hal ini ke aku "oh,,,cowok aku, cowok aku udah putus" ,"kho putus shaz kenapa?, "pertayaanmu tak perlu aku jawab dech aska","sorry ya shaz", " trus cewek kamu dimana sekarang?", "cewek aku lagi dinas di luar kota shaz", " dinas di luarkota memang kerja apa?", "dia seorang dokter Shaz,dia pintar dan cantik makanya aku sangat menyayangi dia", "baguslah, berarti kamu udah ada planing untuk menikah donk?", "ah blom shaz entah lah shaz kapan aku menikah, makanya aku ingin project hari ini goal, klw approve ini bisa merubah hidup dan rencanaku shaz, doain aku ya shaz," "siip planing yang bagus aku doain kamu" "kita pulng balik jakarta kapan shaz" 'bsok pagi kita udah balik jakarta aska aku ada jadwal megajar anak2 panti kasih bunda setiap minggu."ok dech shaz kyaknya aku perli istirahat" "ini kamarmu aska"sambil kutunjukan salah satu pintu kamar dirumahku "semoga mimpi yang indah ya shaz" 2 kali sudah mata aaku dan askara menyatu di udara,oh indahnya mata itu membuat akumerasa nyaman di hati" sama2aska good night have anicedream"***malam ini aku kantuk sekali tapi mataku sulit terpejam mungkin karena mata askara yang membuat aku sulit memejamkan mata ini, melihat mata aska aku merasa mata dia mirip dengan mata eza, ya eza first time Ifall in love...tak akan pernah kulupa, kini aku temukan kembali mata itu tapi bukan eza melainkan Baskara.


SEBUAH CERPEN UNTUKMU

Ditempat ini ku terdiam....dan sayup-sayup terdengar suara jemari yang menari diatas keyboard,sedangkan malam terus kian mengantarkan kedinginan yang tak beralasan...Hingga tuk kesekian kalinya pertanyaan itu kembali dia ucapkan..." ini fotonya siapa,Wa...kenapa ada di dompetmu ??" tanya-nya." coba tebak dulu,Din..cantik ga?? " jawabku mencoba berkilah." jujur aja deh,ni fotonya sapa...!! " nadanya meninggi dengan kesabarannya yang mulai habis. Meskipun sebenarnya aku ga yakin dia siap dengar jawaban yang sesungguhnya...tapi setidaknya aku berusaha jujur dengan apa yang terjadi saat itu.... Huffftt... :)" Ya udah deh...aku jujur,itu fotonya mantanku..." jawabku " Dinda,foto itu masih di dompet,bukan karena ada apa tentang dia..tapi karena aku ga pernah ada waktu buat beresin isi dompetku..." belaku, karena itu yang terjadi sebenarnya dan aku jelaskan kepadanya." Kenapa masih disimpan juga si...buang tinggal buang aja kenapa susah...?? " Kenapa ga ada waktu buat buang..padahal kan ga butuh waktu lama..!!! kesalnya. Aku rasa emang bakalan seperti ini..tapi itu yang terjadi saat itu. " Kamu ga usah nyimpen fotoku..Wa!! Aku buang aja..!!!" sambil melemparkan beberapa fotonya yang aku simpan di dompetku... Yha..aku memang sering melihat foto itu ketika rindu tentang dia menghampiriku." Kenapa dibuang Din...???" Udah ga usa nyimpen fotoku aja,..." jengkelnya.
22.45
Beberapa saat aku terdiam..begitu juga denganya... Malampun semakin larut tuk mengantarnya pulang..diluar udara pasti sangat menusuk sumsum tulang. Begitu juga dengan suasana antara aku dan dia...saat itu. Seperti jarum,dingin dan menyakitkan buat dia....Aku tau akan hal itu.. Klopun sebuah hubungan berakhir saat itu...jelas aku yang pantas untuk disalahkan.aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan ke dia.karena penjelasan dengan kalimat yang sama aku ulangi terus menerus. Hingga akhirnya...didalam sela-sela diamnya..dengan lirih dia mencoba mengucapkan sesuatu..." Aku mau pulang..udah malam" sambil menunduk menutupi wajahnya yang begitu lembut waktu itu. Aaahh...ingin rasanya ku menenangkannya tuk kesekian kali." Yakin kamu ingin pulang dengan keadaan kita seperti ini..sedangkan kita dalam Beberapa hari kedepan ga bisa ketemu...??? " Dinda, aku besok pergi ke jakarta tuk beberapa hari,...kamu yakin mau kaya gini keadaanya kita..?? " Bener,aku ga bole nyimpen fotonya kamu lagi..??bener...?? tanyaku penasaran dengan keputusanya semenit yang lalu. " Tolong ambil fotonya lagi..."suruhku.Dia beranjak dari tempatnya mencoba mencari foto yang di buangnya tadi.aku coba diam mencoba memikirkan kesalahanku.Sedangkan dia larut dalam pencarianya...setelah beberapa saat kemudian..." Ga ketemu,Wa..aku tanya orang tadi yang mau kesini juga ga tau..."" ko bisa ga ketemu...? coba dicari lagi mungkin terselip..." suruhku penasaran.
23.10
5 menit kemudian...dia kembali duduk disebelahku.. " aku datang kali ini bukan untuk kaya gini,..bukan untuk pergi tanpa bawa fotomu,Dinda..." Dia hanya terdiam....memikirkan sesuatu yang nantinya terjadi di hari esok. Tanpa saling bertemu dalam keadaan seperti ini..sangat-sangat tidak mengenakan pastinya buat kita berdua. Matanya mulai dihiasi bilur-bilur air yang memaksa untuk turun... Yha...akhirnya dia menangis,setelah sekian lama menahan air mata dengan tembok pendirian egonya yang semakin meninggi tadi. Ku meraih kedua tanganya...aku peluk dia." Ydh,gpp..." mencoba menenangkannya. " Mungkin memang hari kedepan tidak cuma aku yang ga bakalan ketemu,tapi aku juga ga pegang fotomu,Din..." " Ydh gpp deh..."jawabku lemes, mencoba menenangkanya lagi. Dalam pelukanku dia menangis semakin menjadi... Maafkan aku Dinda...aku yang mulai semua ini..aku yang salah Hingga akhirnya kau meneteskan air mata itu..pikirku dalam hati." Dah malam,Din..kita pulang aja..."ajakku." Maafin aku ya Wa...gara-gara aku kamu ga pegang fotoku buat hari kedepanya.."suara lirihnya terdengar di telingaku. Malam semakin larut..entah apa yang membawa mereka..tapi yang aku tau pasti. keadaan itu membuatku sangat ingin memeluknya lebih lama.. Tapi sepertinya waktu terus memaksaku untuk mengantarnya pulang.aku tau malam telah sangat larut.. Huuufttt...
23.30
Hingga akhirya diujung jalan tempat aku mengantarkanya pulang... dia berhenti...mencoba mengucapkan sesuatu yang terlihat sulit untuk diutarakan." Sekali lagi maafin aku Wa...gara² aku sekarang jadi ga pegang fotoku lagi" sesalnya." Dinda,...aku takut ada apa² yang terjadi denganku besok.aku takut ini pertemuan terakhirku, Din..." Aku coba jelaskan perasaanku saat itu.. " Aku bisa merasakan tanda²nya..kita besok ga ketemu sedangkan malam ini kamu buang fotomu yang ada didompetku "" Dinda, aku takut...kenapa² besok.." terangku. Dia menangis mendengar penjelasanku tadi.." Dewa, jangan bilang kaya gitu...!!!" sambil meneteskan air matanya. " jangan....Wa !! " Oh my God...perasaanku bergetar.. Bulu tanganku merinding,bukan karena takut tapi karena entah apa yang memasuki pikiranku saat itu..aku merasa itu suatu pertanda buruk yang nantinya terjadi. Aku merasa..itu pertemuan terakhir..." Kenapa Dinda nangis...plis jangan nangis seolah-olah ga ketemu aku lagi...Din !!!! " " jangan nangis..."" Iya...." jawabnya sambil membendung air matanya yang terus turun. Kututup kaca helm-ku..karena aku tau... Aku tak sanggup menahan air mataku...huufftt.. Sesaat aku tersenyum dalam tangisku... Aku mencoba menikmati hari itu..kalau seandainya itu hari terakhir buatku bersamanya... Setelah kita larut dalam tangisannya masing².. " Udah Dinda..." usahaku tuk menenangkannya. " Jangan nangis lagi,..sepulang nanti dari jakarta..aku janji aku besok nemuin kamu buat afdruk foto lagi.."dia masih terisak isak dalam tangisnya..berusaha menahan agar air itu tidak jatuh..." Kamu janji..jgn ada apa² ya Wa ... !!! " suruhnya. " Janji kita besok pergi lagi ya... !!! " " iyha Dinda..aku janji " jawabku sembari tersenyum untuknya.
23.40
Beberapa saat kemudian dia pulang...seolah dia menyuruhku melihat sketsa punggungnya yang begitu dingin karena malam itu...hingga akhirnya akupun mulai menghidupkan mesin motorku... Dalam perjalanan pulang,tak henti-hentinya aku memikirkan kejadian tadi... aku begitu menikmati keadaan seperti itu.. sakit,perih dan kebahagiaan datang secara tiba² dalam sebuah hubungan.. cinta yang menangis karena sesuatu yang indah..menjadikan keduanya semakin dewasa dalam menjalaninya... Meskipun ada kisah ROMEO and JULIET...atau kisah yang lebih romantis diluar sana. aku tetap yakin.. Apapun yang terjadi antara kita dan pasangan kita..baik sedih atau bahagia. itu lebih mengharukan daripada kisah teromantis diluar sana, sekalipun itu ROMEO and JULIET. Bukan begitu???" Untuk seseorang diluar sana...terima kasih atas inspirasinya. Aku sangat menyukai cerita ini.. Apapun yang kau lakukan...itu sangat berarti tuk orang yang kau cintai..."

No comments:

Post a Comment